Ketika Dunia Terobsesi jadi Kurus, Perempuan di Negara Ini Justru Banyak yang Digemukkan Paksa

Posted on

[ad_1]

Featured Image

Kalau ngomongin standar kecantikan buat cewek, biasanya nggak akan jauh-jauh dari kulit putih dan badan ramping bak model. Apalagi jika menyangkut masalah bentuk badan yang ‘ideal’– mungkin hampir semua perempuan di dunia ini pernah terobsesi jadi kurus dan berusaha mati-matian diet untuk menurunkan berat badan. Bahkan tidak sedikit juga yang akhirnya sampai menderita gangguan makan seperti bulimia atau anoreksia. Semua itu demi dipandang atau merasa cantik.

Tapi uniknya, realita yang sangat berbeda justru bisa ditemui di Mauritania, sebuah negara kecil di benua Afrika. Di sana, tidak ada perempuan yang ingin jadi kurus atau ramping. Sebagaimana dilansir dari National Geographic, perempuan Mauritania malah selalu mendamba-dambakan tubuh gemuk yang menurut mereka ‘cantik’ dan menarik. Perempuan bertubuh langsing bahkan disebut-sebut bisa membuat malu keluarga dan bakal sangat sulit menikah.

Makanya sejak kecil, anak-anak perempuan di negara itu sering jadi korban program ‘penggemukan paksa‘ oleh orangtuanya. Mereka yang tidak mau makan banyak, akan dihukum. Bahkan ada tradisi penggemukan ekstrem disebut Leblouh  menjelang pernikahan yang harus dilakukan calon pengantin — sangat berbeda dengan cewek pada umumnya yang sibuk diet supaya baju pengantinnya muat. Mau yang pengen kurus atau gendut, kok tetap sama-sama menderita ya atas nama kecantikan ya 🙁

Realita yang ada di Mauritania ini adalah bukti nyata kalau standar kecantikan itu cuma semu semata. Beda dengan hampir semua orang di seluruh dunia, perempuan gemuk justru dianggap cantik di sana

Semakin gemuk, perempuan Mauritania itu semakin ‘cantik’ via www.thelist.com

Sejak kecil, anak-anak perempuan selalu dipaksa makan makanan berlemak dalam porsi yang besar. Dari susu unta yang penuh lemak, roti yang dilumuri minyak, hingga daging kambing

Anak perempuan harus makan sebanyak-banyaknya biar gemuk dan ‘cantik’ via www.deraeymaeker.com

Bukan cuma memaksa, anak-anak perempuan yang tidak mau makan banyak di sana juga kerap kali dihukum. Hukumannya ngeri banget lo!

Dijepit kakinya pakai kayu dong 🙁 via nationalgeographic.grid.id

Selain khawatir anaknya sulit dapat jodoh karena tidak gemuk, anak perempuan yang kurus juga dianggap sebagai aib keluarga. Kalau kurus, keluarga itu akan dipandang tidak mampu memberi makan

Digemukkan secara paksa, demi masa depan dan martabat keluarga via communitypsychologypractice.blogspot.com

Bagi laki-laki Mauritania, perempuan idaman adalah calon istri idaman. Bahkan banyak suami yang mengancam akan ajukan cerai jika istrinya turun berat badan

Punya istri gemuk itu kebanggaan tersendiri bagi laki-laki di negara ini via www.deraeymaeker.com

Menjelang pernikahan, perempuan juga harus mengikuti tradisi penggemukan ‘Leblouh’. Makan berkali-kali lipat dari batas normal sampai 16.000 kalori per hari supaya cepat tambah gemuk

Padahal asupan kalori per hari yang dianjurkan hanya 2.500 kalori via xtrascoop.com

Hadirnya tradisi Leblouh berawal dari masa pra kolonial. Di masa itu, perempuan bersuami pria kaya menjalani kehidupan sehari-hari di rumah saja sambil duduk manis dan kerjanya cuma makan terus

Perempuan gemuk itu lambang kesejahteraan via www.youtube.com

Harta berlimpah dan penuh kejayaan akan tercermin dari bentuk tubuh sang istri. Bahkan, stretch mark yang biasanya ada pada bagian tubuh wanita gemuk dinilai sangat indah layaknya perhiasan

Bentuk badan istri cerminan harta dan kesejahteraan suami via culturalbeauty.wordpress.com

Meski prinsip ‘fat is beautiful‘ ini seakan-akan jadi alternatif standar kecantikan lain di dunia, penggemukan paksa di Mauritania ini disebut-sebut sangat berbahaya bagi kesehatan

Bisa dibilang perempuan di Mauritania sengaja dibuat obesitas via www.hercampus.com

Meski warga Mauritania yang hidup di kota sudah mulai meninggalkan tradisi berbahaya ini, 75% warga pedesaan masih sering menggemukkan anak-anak perempuannya secara paksa

Padahal pemerintah juga sudah berusaha mengubah perspektif ini via rtd.rt.com

Kecantikan memang seharusnya dimaknai secara lebih luas dan tidak hanya terpaku pada satu standar saja. Tapi yang jelas, tidak ada perempuan yang seharusnya sampai harus menderita dan merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya demi disebut ‘cantik’ oleh orang lain

Tidak boleh ada ‘penggemukkan’ atau ‘pengurusan’ paksa demi mengikuti standar kecantikan via www.themindvoyager.com

Pemerintah Maurintania sebenarnya telah berupaya mengubah perspektif ini. Berbagai kampanye dan penyuluhan di beragam tempat telah dilakukan, terutama tetang edukasi bahayanya menjadi penderita obesitas. Terlebih, bukan tidak mungkin akan terjadi trauma atau masalah yang menyangkut psikis anak-anak perempuan karena sejak usia dini sudah menderita akibat tradisi Leblouh ini

Cantik itu relatif. Nggak melulu yang langsing, kurus, atau gemuk sekalipun. Tapi rasanya sangat tidak pantas hanya untuk menjadi “cantik” di mata orang lain atau mengikuti perspektif “cantik” di masyarakat. Terlebih lagi harus mengalami beragam penderitaan dan ancaman kesehatan seperti para perempuan di Mauritania.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

[ad_2]

article by:hipwee.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *